Rabu, 13 Oktober 2010 | 06:28 WIB

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Warga melepas lelah di bawah gerbong kereta api di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/10/2010). Tidak sterilnya kawasan stasiun bisa menimbulkan korban jiwa dan berakibat fatal terhadap properti yang dimiliki oleh PT Kereta Api.JAKARTA, KOMPAS.com — Meski telah terpasang, rambu peringatan berisi larangan berjalan ataupun beraktivitas di area rel kereta api sering diabaikan oleh banyak orang.

Baik pedagang maupun warga masih saja terlihat beraktivitas di area berbahaya itu, seperti terlihat di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/10/2010).
Hampir sepanjang sisi stasiun masih banyak ditemui permukiman warga ataupun warung kecil. Meskipun ada pagar pembatas beton ataupun besi, warga masih saja membangun gubuk-gubuk kecil hingga di bibir rel.
Bahkan, beberapa pagar besi di antaranya raib sehingga memudahkan warga lalu lalang memasuki kawasan stasiun.
Begitu pula dengan rangkaian gerbong kereta api kelas ekonomi yang sedang parkir keamanannya terlihat longgar.
Tidak ada rasa takut ataupun ngeri terlintas di wajah orang-orang saat beristirahat di bawah gerbong. Padahal, tidak jauh dari mereka ada dua jalur kereta yang aktif.
Beberapa di antaranya mereka tertidur pulas dengan alas kardus. Mereka adalah para pemulung barang bekas yang mencoba mengusir rasa lelah ataupun berlindung dari sengatan matahari.
"Kami hanya mengusir hawa panas," kata Abidin (32), sambil bercanda dengan Sabila, putri semata wayangnya yang baru berusia 7 bulan. "Habis, mau istirahat ke mana lagi, kami tidak neko-neko kok, istirahat saja," ujarnya.
Para pencari barang bekas itu terlihat asyik membicarakan kasus terbakarnya 25 gerbong kereta di Stasiun Rangkasbitung. "Itu pasti disengaja, kalau tidak dendam sama orang kereta, apa lagi?" kata warga yang duduk agak jauh dari Abidin.
Minimnya kesadaran warga akan pentingnya keselamatan membuat sebagian besar stasiun di Jakarta rawan terjadi kecelakaan, bahkan tidak mustahil kejadian luar biasa seperti yang terjadi di Stasiun Rangkasbitung bisa terulang kembali.
Dalam waktu dekat, pihak PT KA akan menambah jumlah personel keamanan. "Kami akan tambah personel keamanan sesuai yang dibutuhkan, semuanya nanti akan kami kaji kembali, sesuai kebutuhan dan kemampuan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT KA Daerah Operasi I Jakarta Mateta Rizalulhaq melalui telepon.
Selain menambah personel keamanan, Mateta bersama jajarannya juga akan mengintensifkan kerja sama dengan pihak kepolisian.
"Semuanya untuk meminimalisasi dan mencegah kejadian yang tidak kita inginkan, meski sudah banyak papan larangan beraktivitas di jalur kereta, masih tetap saja banyak yang melanggar. Nah, nanti dengan kerja sama ini pihak keamanan bisa melakukan pencegahan terhadap pelanggaran yang terjadi. Nantinya, yang boleh di kawasan stasiun hanya calon penumpang saja," katanya.
Itu kebakaran di Rangkasbitung pasti disengaja, kalau tidak dendam sama orang kereta, apa lagi. Pemulung di Stasiun Tanah Abang.
Hampir sepanjang sisi stasiun masih banyak ditemui permukiman warga ataupun warung kecil. Meskipun ada pagar pembatas beton ataupun besi, warga masih saja membangun gubuk-gubuk kecil hingga di bibir rel.
Bahkan, beberapa pagar besi di antaranya raib sehingga memudahkan warga lalu lalang memasuki kawasan stasiun.
Begitu pula dengan rangkaian gerbong kereta api kelas ekonomi yang sedang parkir keamanannya terlihat longgar.
Tidak ada rasa takut ataupun ngeri terlintas di wajah orang-orang saat beristirahat di bawah gerbong. Padahal, tidak jauh dari mereka ada dua jalur kereta yang aktif.
Beberapa di antaranya mereka tertidur pulas dengan alas kardus. Mereka adalah para pemulung barang bekas yang mencoba mengusir rasa lelah ataupun berlindung dari sengatan matahari.
"Kami hanya mengusir hawa panas," kata Abidin (32), sambil bercanda dengan Sabila, putri semata wayangnya yang baru berusia 7 bulan. "Habis, mau istirahat ke mana lagi, kami tidak neko-neko kok, istirahat saja," ujarnya.
Para pencari barang bekas itu terlihat asyik membicarakan kasus terbakarnya 25 gerbong kereta di Stasiun Rangkasbitung. "Itu pasti disengaja, kalau tidak dendam sama orang kereta, apa lagi?" kata warga yang duduk agak jauh dari Abidin.
Minimnya kesadaran warga akan pentingnya keselamatan membuat sebagian besar stasiun di Jakarta rawan terjadi kecelakaan, bahkan tidak mustahil kejadian luar biasa seperti yang terjadi di Stasiun Rangkasbitung bisa terulang kembali.
Dalam waktu dekat, pihak PT KA akan menambah jumlah personel keamanan. "Kami akan tambah personel keamanan sesuai yang dibutuhkan, semuanya nanti akan kami kaji kembali, sesuai kebutuhan dan kemampuan," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT KA Daerah Operasi I Jakarta Mateta Rizalulhaq melalui telepon.
Selain menambah personel keamanan, Mateta bersama jajarannya juga akan mengintensifkan kerja sama dengan pihak kepolisian.
"Semuanya untuk meminimalisasi dan mencegah kejadian yang tidak kita inginkan, meski sudah banyak papan larangan beraktivitas di jalur kereta, masih tetap saja banyak yang melanggar. Nah, nanti dengan kerja sama ini pihak keamanan bisa melakukan pencegahan terhadap pelanggaran yang terjadi. Nantinya, yang boleh di kawasan stasiun hanya calon penumpang saja," katanya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar